Linda Raschke – the Market Wizard speaks to Pepperstone

Linda Raschke – the Market Wizard speaks to Pepperstone

User avatar placeholder
Written by operator

April 26, 2026

Pasar selalu berevolusi dengan teknologi baru.

Eksekusi trading semakin efisien.

Biaya trading turun drastis dibanding era 1980-an.

Produk investasi baru terus bermunculan.

Linda Raschke mulai trading sejak awal 1980-an.

Awalnya sebagai market maker opsi di lantai bursa San Francisco.

Pernah menjadi kepala trading di hedge fund.

Rekor terbaiknya: peringkat 17 dari 4.500 di Barclay’s Hedge Index.

Ia termasuk trader yang ditulis di buku Market Wizards.

Penulis buku Trading Sardines.

Pengalaman di lantai opsi berbeda dengan open outcry futures.

Opsi awalnya memberi edge arbitrase.

Tahun 1985–1986 edge arbitrase mulai hilang.

Opsi kini lebih untuk mengekspresikan bias arah.

Strategi opsi tidak lagi punya edge besar.

Backer pertamanya sangat disiplin.

Setiap malam harus input data dengan Texas Instrument 700.

Trader wajib mengerjakan “homework” tiap malam.

Rutinitas ini membentuk kerangka kerja Linda.

Linda menekankan pentingnya kerendahan hati.

Ia terbuka membicarakan kerugian besar.

Pernah rugi besar saat menjual straddle takeover.

Kerugian membuatnya harus mencari backer baru.

Ia jadi “gopher” untuk backer lain selama 5 tahun.

Kerugian membuatnya tetap bertahan di bisnis.

Prinsip: trader harus bisa menerima loss.

Jika terlalu takut rugi, tidak cocok jadi trader.

Trading seperti olahraga: statistik selalu 50–50.

Trader harus melihat permainan sebagai numbers game.

Edge kecil hanya terlihat setelah ratusan trade.

Pengalaman lebih penting daripada teori.

Butuh waktu lama untuk memahami berbagai kondisi pasar.

Harus mengalami bull market, bear market, volatilitas, dan pasar sepi.

Konteks hanya bisa dipahami lewat pengalaman panjang.

Analogi olahraga: belajar tenis/golf butuh bertahun-tahun bermain.

Linda tidak suka istilah “instinct.”

Instinct terlalu subjektif dan berbahaya.

Lebih tepat disebut akumulasi pengalaman.

Membaca tape dan tone pasar lebih berguna.

Instinct bisa menyesatkan jika dianggap firasat.

Opsi membuat trader berpikir dalam distribusi probabilitas.

Linda tidak terlalu memakai opsi untuk probabilitas.

Game theory lebih relevan untuk probabilitas.

Trader poker/blackjack terbiasa dengan variabel fuzzy.

Linda awalnya lebih fokus pada arbitrase opsi.

Arbitrase mengajarkan pentingnya manajemen risiko.

Jika konvergensi tidak terjadi, itu sinyal penting.

Harus cepat mengelola risiko saat arbitrase gagal.

Linda tidak suka poker.

Ia lebih suka permainan kartu seperti bridge atau gin rummy.

Ia tidak suka membaca orang lain dalam poker.

Perubahan besar sejak 1980-an: teknologi trading.

Biaya trading turun drastis sejak 10 tahun lalu.

Data feed justru makin mahal.

Hardware komputer cukup stabil, tidak banyak berubah.

Software charting lebih robust sekarang.

Crash dan latency lebih jarang terjadi.

Tidak ada perubahan besar dalam 5 tahun terakhir.

Banyak orang bilang retail tidak bisa bersaing dengan institusi.

Linda menolak anggapan itu.

Institusi tidak lincah di time frame pendek.

High frequency trading hanya memberi likuiditas.

Trader retail justru diuntungkan oleh likuiditas HFT.

Edge HFT juga hilang setelah 7–8 tahun.

Trading bukan zero-sum game antar institusi vs retail.

Ada banyak time frame berbeda yang bekerja bersamaan.

Institusi juga punya keterbatasan besar.

Linda bersyukur ada institusi karena selalu ada bid/offer.

Volatilitas adalah bahan bakar peluang.

Linda mendefinisikan volatilitas dengan Average True Range (ATR).

ATR dihitung dalam dollar range per hari.

Contoh: bonds $1.300/hari, crude oil $2.500/hari.

ATR menentukan ukuran posisi (unit size).

Unit size dihitung per $50.000 modal.

Posisi disesuaikan dengan volatilitas pasar.

ATR dihitung ulang tiap kuartal.

Dengan ATR, ukuran posisi selalu konsisten.

Volatilitas memberi peluang, bukan ancaman.

Pasar flat tanpa volatilitas sangat sulit ditradingkan.

Linda menyebut konsep “environment recognition.”

Trader harus mengenali apakah pasar tren atau sideways.

Strategi berbeda untuk momentum vs mean reversion.

Market profile bisa membantu memahami value area.

Linda lebih fokus pada momentum directional.

Ia menggunakan rate of change 2 periode.

ROC 2 periode lebih baik daripada 1 periode.

Linda menekankan pentingnya konteks.

Trader harus tahu apakah pasar channeling atau konsolidasi.

Entry klasik: sell di atas high sebelumnya.

Entry klasik: buy di bawah low sebelumnya.

Linda biasanya hanya 1 trade per pasar per hari.

Tujuannya menangkap bagian tren harian.

Day trading bukan berarti frekuensi tinggi.

Overtrading di noise justru berbahaya.

Trader sering profit pagi lalu rugi sore karena lelah.

Day trading retail cocok untuk akun kecil.

Tidak scalable untuk dana besar.

Sulit dilakukan konsisten selama 30 tahun.

Trader harus punya strategi yang sustainable.

Linda mencari “play of the day.”

Bisa high-to-low day atau low-to-high day.

Bisa mean reversion setelah range expansion.

Bisa breakout setelah balancing.

Market profile membantu memahami value area.

Linda memilih alat sederhana, tidak terlalu banyak indikator.

Momentum lebih penting daripada pola chart klasik.

Noise di chart 5–15 menit bisa menyesatkan.

Linda lebih suka time frame lebih tinggi.

ATR 10 hari digunakan untuk S&P.

Ia pakai data 24 jam, bukan hanya pit session.

Linda sering trading emas, perak, tembaga.

Kadang trading crude oil dan S&P.

Weekly oscillator oversold bisa memberi peluang 8–10 hari.

Namun frekuensi peluang weekly hanya 3 kali setahun.

Trader realistis hanya bisa menangkap 1–2 peluang besar.

Extended run bisa terjadi hingga 27 hari.

Jika tren berlanjut, trailing stop wajib digunakan.

Pasar sering bergerak lebih jauh dari perkiraan.

Trader harus belajar dari data historis.

Linda menekankan pentingnya studi frekuensi kejadian.

Outlier run memberi profit besar.

Trader harus tahu kapan tidak melakukan counter-trend.

Modeling membantu memahami probabilitas.

Linda belajar semua ini dengan cara sulit.

Pengalaman langsung lebih berharga daripada teori.

Trader harus menerima bahwa tidak ada kepastian 100%.

Edge kecil hanya muncul lewat konsistensi jangka panjang.

Linda menekankan pentingnya disiplin harian.

Homework malam tetap dilakukan meski era komputer.

Persiapan sebelum hari trading adalah ritual wajib.

Trader sukses selalu punya rutinitas.

Linda percaya pengalaman puluhan tahun adalah aset utama.

Trader harus belajar dari loss, bukan menghindarinya.

Loss adalah bagian dari permainan.

Kerugian awal membuatnya tetap bertahan di bisnis.

Linda menekankan pentingnya kerja keras.

Trader harus siap menghadapi berbagai kondisi pasar.

Tidak ada jalan pintas menuju konsistensi.

Trading adalah permainan probabilitas.

Trader harus berpikir dalam numbers game.

Ego “harus benar” justru merusak.

Fokus pada proses, bukan prediksi.

Linda menolak istilah intuisi sebagai firasat.

Intuisi = pengalaman yang terkumpul.

Trader harus belajar membaca tone pasar.

Linda menekankan pentingnya kesederhanaan.

Terlalu banyak indikator membuat bingung.

ATR dan ROC cukup untuk analisis.

Market profile berguna, tapi bukan alat utama.

Image placeholder

Lorem ipsum amet elit morbi dolor tortor. Vivamus eget mollis nostra ullam corper. Pharetra torquent auctor metus felis nibh velit. Natoque tellus semper taciti nostra. Semper pharetra montes habitant congue integer magnis.