Relative strength digunakan untuk menemukan peluang terbaik di pasar futures.
Prinsip utama: beli instrumen yang paling kuat dan jual yang paling lemah.
Hal ini berlawanan dengan budaya “beli diskon” karena trader harus berani membayar untuk aset yang paling diminati.
Relative strength bisa dipakai intraday maupun untuk posisi jangka panjang.
Contoh intraday: membandingkan 4 indeks (Russell, NASDAQ, Dow, S&P) pada grafik 5 menit.
Jika Dow dan S&P membuat lower low, sementara NASDAQ dan Russell membuat higher low, maka NASDAQ/Russell adalah kandidat terbaik untuk dibeli.
Pola ini juga berlaku pada jangka menengah, misalnya saat S&P membuat lower low tetapi NASDAQ higher low, NASDAQ kemudian memimpin rally.
Relative strength juga bisa diterapkan pada komoditas dan mata uang (misalnya crude, gold, copper, currencies).
Jika crude membuat higher low sementara pasar lain lower low, crude menjadi pilihan untuk long.
Contoh nyata: crude oil rally di atas $100 sementara natural gas tetap lemah karena oversupply.
Kesalahan umum trader adalah membeli aset yang “belum bergerak” padahal ada alasan fundamental (misalnya oversupply).
Relative strength membantu memilih kendaraan trading yang tepat dan meningkatkan peluang profit.